Kisah Perjuangan Seorang Ibu Tunawicara.

Di suatu desa di kecamatan Tambelang, kabupaten Bekasi

Seorang ibu tunawicara menghabiskan hari-harinya, berjuang tanpa kenal lelah demi menghidupi kedua buah hatinya.

Meski tak mampu menguntai kata-kata, tatapan matanya menyimpan harapan, doanya terus menggema, mengharapkan masa depan yang lebih baik untuk kedua putri kesayangannya. Sejak si bungsu masih bayi, sang ayah telah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan sang ibu sebagai satu-satunya pilar dan tempat bersandar bagi keluarga kecil ini.

urutan dari sebelah kiri: Pengawas GMMI, Yatim Binaan GMMI, Kakak, Adik Bungsu

Putri sulungnya kini telah duduk di kelas 2 SMP. Ia terus berjuang untuk tetap mengenyam pendidikan, meski tunggakan biaya dan kebutuhan sekolah kian menumpuk. Sementara itu, sang adik yang seharusnya sudah berseragam TK hanya bisa menatap keberangkatan kakaknya yang pergi bersekolah dari ambang pintu. Keterbatasan biaya memaksa langkah kecilnya terhenti, tak bisa ikut belajar dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Tanpa kemampuan berbicara dan sumber penghasilan yang pasti, sang ibu terus bekerja keras dengan caranya sendiri agar kebutuhan kedua anaknya dapat terpenuhi.

Kisah perjuangan mereka berlangsung di sebuah rumah berdinding kayu yang penuh celah dan lubang di mana-mana. Tiang-tiang penyangganya mulai miring, bersusah payah menahan beban agar tak roboh. Atapnya yang lapuk hanya cukup untuk berteduh seadanya. saat hujan turun, air merembet ke seluruh ruangan dan membasahi setiap sudut bangunan.

Namun, di tengah segala keterbatasan itu, kehadiran dan keteguhan hati sang ibulah satu-satunya alasan tempat yang rapuh itu mereka sebut sebagai rumah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *